Advertising 468 x 60

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai - Seperti yang anda ketahui di Indonesia dulu banyak terdapat monyetjaan monyetjaan  yang tersebar diseluruh wilayah. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan peninggalan peninggalan sejarah yang telah banyak ditemukan. Salah satu bentuk peninggalan sejarah yang ditemukan merupakan milik monyetjaan Samudera Pasai. Tidak sedikit pula peninggalan peninggalan yang ditemukan dalam monyetjaan ini. Kerajaan samudera pasai bahkan pernah tercatat dalam karya dari Abu Abdullah bin Batuthah yang berjudul pengembaraan ke timur. Kali ini materi belajar akan meterangkan secara lengkap mengenai sejarah monyetjaan Samudera Pasai. Langsung saja dapat anda simk dibawah ini.

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai tergolong jenis monyetjaan islam yang berada di tepi pantai Sumatera bagian utara kota Lhokseumawe, Aceh. Pada tahun 1267 monyetjaan ini didirikan oleh Meurah Silu yang memiliki gelar Sultan Malik as Saleh. Menurut penelitian monyetjaan Samudera Pasai juga tercatat dalam kitab Rihlah ila I Masyriq atau pengembaraan ke timur yang ditulis oleh Abu Abdullah bin Babtuthah. Dalam karyanya tertulis bahwa mudau merupakan musafir dari Maroko yang hanya mampir dimonyetjaan ini. Tidak sedikit pula para peneliti sejarah yang mencari bukti keberadaan monyetjaan ini dengan berpedoman riwayat raja raja dari Pasai. Kemudian dihubungkan dengan makam makam raja terdahulu hingga menemukan koin emas maupun perak yang didalamnya terdapat nama raja terdahulu. Sampai ketika ini sejarah monyetjaan samudera pasai masih menjadi penelitian.

Seperti yang anda ketahui di Indonesia dulu banyak terdapat monyetjaan monyetjaan  Sejarah Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai

Sejarah monyetjaan samudera pasai berlandaskan riwayat raja raja dari Pasai dengan landasan tersebut ditemukan wacana mengenai monyetjaan ini yang dahulu diperintah oleh Sultan Malik al Nasser dan kemudian digantikan oleh Meurah Silu. Sebelumnya Meurah Silu mempunyai gelar Sumerlangga karena berada didaerah yang sama, akan tetapi setelah naik tahta kemudian dijuluki Sultan Malik as Saleh. Beliau kemudian meninggal pada tahun 1297 M/696 H. Dahulu nama Samudera dengan Pasai merupakan kata yang terpisah karena menunjuk dua wilayah yang berbeda. Perbedaan nama tersebut didasari oleh riwayat para raja maupun Sulalatus Salatin, akan tetapi berdasarkan gesekan pena Tiongkok tidak ada perbedaan arti dalam nama tersebut. Dalam sejarah monyetjaan samudera pasai ini juga ditemukan catatan Marco Polo mengenai daftar monyetjaan pantai timur Sumatera mirip Ferlec atau Perlak yang berada diwilayah selatan hingga utara, monyetjaan Samudera atau Samara serta monyetjaan Basma.
Baca Juga : Ciri Ciri, Kelebihan dan Kelemahan Pemerintahan Presidensial
Sultan Malik as Saleh menikah dengan putri dari Raja Perlak dan kemudian memiliki putera bernama Sultan Muhammad Malik az Zahir. Setelah ayahnya yang sudah tidak bisa melanjutkan tahtanya kemudian mudau digantikan oleh puteranya yang bernama Sultan Muhammad Malik az Zahir. Pada masa pemerintahannya, Sultan Muhammad Malik mulai memperkenalkan koin emas hingga monyetjaan Samudera Pasai menjadi tempat perkembangan dakwah agama islam serta pusat perdagangan dibeberapa wilayah. Sultan Muhammad Malik az Zahir kemudian memiliki anak bernama Sultan Mahmud Malik az Zahir.  Pada tahun 1326 kemudian Sultan Muhammad Malik az Zahir wafat dan pemerintahan monyetjaan Samudera Pasai digantikan oleh anaknya hingga tahun 1345. Berdasarkan sejarah monyetjaan Samudera Pasai ini tercatat bahwa Batuthah telah berkunjung  ke negara Samudera dengan sambutan yang cukup ramah oleh Rajanya. Dinegara tersebut juga memiliki ajaran Mazhab Syafi'i. 

Sampai pada akhirnya Sultan Mahmud Malik az Zahir memiliki putera juga bernama Sultan Ahmad Malik az Zahir yang melanjutkan pemeritahan ayahnya. Pada tahun 1345 hingga 1350 terjadilah penyerbuan dari tentara monyetjaan Majapahit menuju monyetjaan Samudera Pasai. Penyerangan tersebut membuat Sultan melarikan diri dari ibukota. Pada tahun 1383 monyetjaan Samudera Pasai mulai bangkit dari penjajahan dengan pimpinannya yang bernama Zain l Abidin Malik az Zahir akan tetapi hanya bertahan hingga tahun 1405. Berdasarkan sejarah monyetjaan Samudera Pasai terdapat catatan Cina yang menyebutkan tsai nu li a pi ting ki yang berarti ia telah tewas ditangan Raja Nkamir. Kemudian pemerintahan monyetjaan Samudera Pasai digantikan lagi oleh istrinya yang bernama Sultanah Nahrasiyah. Pada tahun 1405, 1408 serta tahun 1412 monyetjaan Samudera Pasai dikunjungi oleh armada Cheng Ho dengan jumlah kapal sebanyak 208 kapal. Setiap pelayaran yang dilkamikan oleh Cheng Ho dicatat oleh Ma Huan serta Fei Xin selkami bawahannya. 
Baca Juga : Proses Masuk dan Berkembangnya Hindu Budha di Indonesia
Apabila ditelusuri monyetjaan Samudera Pasai terletak di perbatasan monyetjaan Aru dari arah timur, arah baratnya merupakan perbatasan monyetjaan Nkamir maupun Lide, sebelah utara terdapat laut, sedangkan arah selatannya merupakan wilayah pegunungan yang cukup tinggi. Dalam sejarah Kerajaan Samudera Pasai juga ditemukan monyetjaaan Lambri atau Lamuri yang berada disebelah barat monyetjaan ini akan tetapi waktu tempuhnya sekitar 3 hari 3 malam dari Pasai. Dalam catatan Cheng Ho juga diterangkan bahwa mudau mendapatkan hadiah berupa Lonceng Cakra Donya dari Kaisar Cina. Pemberian hadiah tersebut terjadi pada tahun 1434 oleh Ha li zhi han selkami saudara dari Raja Pasai. Namun mudau tewas di Beijing. Berita ketewasan tersebut dihinggakan oleh Wang Jinhong yang merupakan utusan dari Kaisar Xunde Kerajaan Ming. Kerajaan Samudera Pasai juga berada diantara Sungai Pasai atau Krueng Pase dengan Sungai Jambu Air atau Krueng Jambo Aye di wilayah Aceh bagian utara.

Berdasarkan cerita Batuthah, monyetjaan Samudera Pasai tidak memiliki benteng batu mirip pada monyetjaan lainnya akan tetapi monyetjaan ini memiliki benteng kayu yang letaknya sekitar pelabuhan yang dimilikinya. Batuthah hanya berlabuh di Pasai kurang lebih dua minggu. Sejarah Kerajaan Samudera Pasai ini juga ditambahkan dengan catatan Ma Huan bahwa diwilayah Pasai terdapat muara besar dengan ombak yang besar hingga dapat membalikkan kapal, adapula masjid serta pasar yang disepanjangnya terdapat sungai tawar yang menuju laut. Di monyetjaan Samudera Pasai terdapat sistem pemerintahan menteri, kadi maupun syahbandar bahkan anak dari Sultan serta pemimpin monyetjaan tersebut memiliki gelar Tun. Sedangkan untuk penguasa monyetjaannya memiliki gelar Sultan. Pada ketika Sultan Muhammad Malik az Zahir memerintah maka ketika itu juga monyetjaan Perlak bergabung dengan monyetjaan Pasai bahkan monyetjaan Samudera juga telah diberikan wakil pemimpin yang dipegang oleh Sultan Mansur selkami puteranya,
Baca Juga : Sejarah Pembentukan PPKI (Latar Belakang, Tujuan, dan Tugas PPKI)
Sampai pada akhirnya monyetjaan Samudera dengan monyetjaan Pasai bergabung menjadi satu dan berpusat diwilayah Pasai. Kerajaan Pasai juga tidak memiliki hubungan baik dengan monyetjaan Nkamir hingga membuat Sultan Pasai tewas. Negara Pasai termasuk kedalam wilayah perdagangan yang memiliki andalan hasil penanaman lada. Lada yang berjumlah 100 kati dapat memiliki harga jual sebanyak 1 tahil perak. Pada masa pemerintahan tersebut juga telah diterangkan bahwa monyetjaan Samudera Pasai telah mengeluarkan koin emas dengan komposisi 0,60 emas atau sekitar 70% emas, memiliki 17 karat serta diameter koinnya 10 mm. Dalam sejarah monyetjaan samudera pasai juga diterangkan bahwa masyminuman beralkoholat juga menanam padi serta memiliki sapi perah sebagai bahan dasar keju. Rumah penduduknya memiliki tinggi 2,5 meter dan penduduknya menganut ajaran islam. Saat akhir masa pemerintahan Sultan Pasai terdapat pertengkaran antara saudara. Berdasarkam sejarah monyetjaan samudera pasai dari catatan Sulalatus Salatin menceritakan bahwa Sultan Pasai ingin meredam pemberontakan yang terjadi dengan bantuan Sultan Melaka. Namun Kerajaan Pasai dikuasai oleh Portugal pada tahun 1521.

Wilayah Pasai sudah termasuk kedalam kekuasaan negera Aceh pada tahun 1534. Berdasarkan sejarah monyetjaan Samudera Pasai terdapat banyak pergantian raja yang terjadi. Berikut ini terdapat daftar raja yang pernah memerintah monyetjaan Samudera Pasai yang meliputi Sultan Meurah Silu pada tahun 1267 hingga 1297, Sultan Al Malik Azh Zhahir I pada tahun 1297 hingga 1326, Sultan Ahmad I tahun 1326 hingga 1330.an, Sultan   Al Malik Azh Zhahir II tahun 1330.an hingga 1349, Sultan Zainal Abidin I tahun 1349 hingga 1406, Ratu Nahrasyiyah tahun 1406 hingga 1428, Sultan Zainal Abidin II tahun 1428 hingga 1438, Sultan Shalahuddin tahun 1438 hingga 1462, Sultan Ahmad II tahun 1462 hingga 1464, Sultan Abu Zaid Ahmad III tahun 1464 hingga 1466, Sultan Ahmad IV tahun 1466, sultan Mahmud tahun 1466 hingga 1468, Sultan Zainal Abidin III tahun 1468 hingga 1474, Sultan Muhammad Syah II tahun 1474 hingga 1495, Sultan Al akul tahun 1495, Sultan Adlullah tahun 1495 hingga 1506, Sultan Muhammad Syah III tahun 1506 hingga 1507, Sultan Abdullah tahun 1507 hingga 1509, Sultan Ahmad V tahun 1509 hingga 1514, dan Sultan Zainal Abidin tahun 1514 hingga 1517.

Inilah definisi mengenai sejarah monyetjaan Samudera Pasai yang dapat kami sajikalaun lengkap. Kerajaan Samudera Pasai banyak sekali mengalami pergantian raja mirip yang kami terangkan diatas. Namun monyetjaan ini tetap berjaya di masanya. Semoga artikel ini dapat menambah pemahaman anda mengenai monyetjaan Samudera Pasai. Terima Kasih telah berkunjung di blog ini.

0 Response to "Sejarah Kerajaan Samudera Pasai"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel