Advertising 468 x 60

Membaca Cerpen Tanggung Jawab Ade

Cerita pendek yang biasa disingkat cerpen yaitu karya sastra berbentuk prosa yang mengisahkan sepenggal hidup tokoh yang mengalami bencana kehidupan. Pengarang menyajikan pandangan baru cerpen dengan menjalin peristiwa-peristiwa menjadi satu dalam sebuah alur.

Alur merupakan perpaduan antara unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama kisah. Contoh cerpen yang berkaitan dengan manusia dan tanggung jawab salahsatunya adalah cerpen berjudul Tanggung Jawab Ade oleh Gusti Noor.

Apakah kau suka membaca dongeng pendek (cerpen)? Nah, coba sekarang bacalah cerpen berikut. Cerpen ini bercerita wacana tanggung jawab dalam keluarga

Tanggung Jawab Ade
Oleh Gusti Noor
Sebenarnya Ade tahu dan mengerti, setiap hari Kak Nina selalu membantu Ibu menyiapkan kuliner untuk dijual. Mengantarkan ke warung-warung dengan mengendarai sepeda sebelum pergi ke sekolah. Ade juga tahu, Kak Nina sering terlambat tiba di sekolah lantarannya. Tetapi anehnya Kak Nina tidak pernah tertinggal pelajarannya. Kak Nina di rumah selalu mengulang pelajaran yang diberikan di sekolah. Dan rasa-rasanya, Kak Nina adalah orang yang paling baik di rumah ini. Dan Ade tidak pernah merasa iri bila Kak Nina dibelikan sesuatu sedang beliau sendiri tidak.

Tetapi kini ini, pagi hari ini, Ade bersungut-sungut. Kak Nina sakit, berarti tidak berangkat ke sekolah dan tidak ada yang mengantar dagangan ke warung-warung. Ibu sudah usang tidak bisa pergi ke mana-mana lantaran simpel sakit kepala. Satu-satunya yang bisa dibutuhkan adalah Ade.

“Apa Ade tidak ingin membantu ibu? Sekali ini saja, selagi Kakakmu sakit, De...,” Ibu berkata dengan penuh harap.

“Ade hari ini ada ulangan, Bu. Harus berangkat lebih awal... Semalam tidak sempat banyak berguru...,” jawab Ade sambil menyiapkan buku-bukunya.

Wajahnya tampak cemberut. Ibu menarik napas panjang mendengar alasan yang diberikan Ade. Kalau sudah demikian, mau apa lagi?
Cerpen Tanggung Jawab Ade
“Biarlah saya sendiri saja, Bu. Rasanya kepala saya sudah tidak pening lagi,” seru Kak Nina dari dalam kamar. Mendengar suara Kak Nina, Ibu kemudian meninggalkan Ade yang masih berwajah cemberut.

“Betul kau sudah sehat, Nina? Ibu khawatir nanti malah tambah sakitmu,” kata Ibu. Kak Nina bangkit perlahan dari kawasan tidurnya kemudian pergi ke kamar mandi. Ibu hanya mengawasi dari belakang sambil menggendong adiknya yang masih bayi.

“Kenapa tidak kau bilang dari tadi jikalau badanmu tidak sehat, Nin? Kalau saja kau bilang selagi Bapak belum berangkat, pasti Bapakmu yang mengantarkan kue-kue dagangan kita ini...,” bisik Ibu.

“Baru terasa sesudah saya mandi tadi Bu... Mulanya tak terasa apa-apa. Mungkin sebentar juga sembuh, Bu,” jawab Nina sambil terus berpakaian.

Ade berangkat tergesa-gesa. Ada ulangan, begitu alasan yang disampaikannya untuk menolak tugas yang biasa dilakukan Kak Nina. Padahal ia tidak pribadi menuju ke sekolah, karena di sekolah pada waktu sepagi itu masih sepi. Bahkan mungkin gerbangnya belum dibuka. Dan bahwasanya pula tidak ada ulangan. Ade sengaja menolak tugas itu karena malu. Ia tidak mau teman-temannya melihatnya naik sepeda sambil membawa keranjang kue-kue. Ia tidak mau dikata-katai sahabat-teman seperti yang ialami Alip yang mengantarkan koran tiap pagi itu.

Hari masih pagi benar. Ade tidak tahu akan ke mana tujuannya pada pagi itu. Apakah akan mampir ke rumah Tina? Atau Ninuk? Ah lebih baik ke rumah Yova saja. Biasanya anak itu sudah siap pagi-pagi sekali. Aku bisa meluangkan waktu menunggu siang di rumahnya, pikir Ade.

Tiba di rumah Yova, Ade ternyata harus menunggu lama sekali. Yova masih berjalan-jalan bersama adiknya yang masih kecil. Mama Yova sedang menata meja makan untuk sarapan Papanya. Kakak Yova sedang mengepel lantai. Papa Yova sedang mencuci mobil. Bik Icih sedang membantu mempersiapkan makanan di dapur. Dan Ade merasa jengah menunggu di teras.

“Tunggu sebentar, De. Yova cuma mengajak jalan-jalan Vina menghirup embun pagi. Tak usang lagi ia niscaya kembali. Dia juga sudah siap akan berangkat...,” kata Papa Yova mencoba menentramkan kegundahan Ade yang sedang menunggu itu.

Tetapi yang dikatakan oleh Papa Yova itu ternyata usang sekali bagi Ade. Jam dinding di rumah Yova memperlihatkan pukul enam lebih sepuluh menit. Jarumnya bergerak perlahan. Ade semakin merasa tidak lezat duduk di dingklik teras. Tak usang kemudian Bik Icih mengantar secangkir teh elok dengan ubi goreng.

“Silakan diminum, Neng Ade,” Bik Icih memberikan.

“Saya mau berangkat dulu, Bik,” jawabnya kepada Bik Icih. Lalu kepada Papa Yova beliau pamitan sambil bergegas pergi, “Terima kasih... Om, saya mau berangkat saja dulu. Mau mampir ke rumah Ninuk, Om...” la tiba-tiba gugup.

Papa Yova keheranan, demikian pula Bik Icih. Mereka heran melihat Ade tiba-tiba pergi dan melangkah lebar-lebar meninggalkan rumah itu.

Semua orang sibuk, semuanya bekerja. Semuanya, tanpa kecuali. Kak Nina juga. Padahal Kak Nina sedang sakit. Karena tanggung jawabnya sebagai anak tertua dan juga karena rasa sayangnya kepada keluarga, Kak Nina berpayah-payah pergi mengantar kue. Padahal Kak Nina sakit.

Bagaimana jikalau sakitnya bertambah parah? Bagaimana bila Kak Nina jatuh dari sepeda karena kepalanya pening? Bagaimana jikalau sampai... ah. Ade seperti ingin menangis selama perjalanan menuju ke sekolah. Hatinya begitu bingung. Ia tak jadi ke rumah Ninuk. Sekolah masih sepi, baru beberapa anak saja yang tiba.

Selama pelajaran berlangsung Ade tidak bisa memusatkan perhatiannya pada pelajaran. Beberapa kali ditegur Pak Adi karena terdiam. Ia ingin segera pulang. Ingin segera menjenguk Kak Nina. Mungkin Kak Nina tambah parah sakitnya, mungkin Kak Nina jatuh dari sepeda karena kepalanya pening kemudian ada kendaraan yang menabraknya Hap.. .

“Kau sakit, Ade?” tiba-tiba terdengar teguran Pak Adi. Ade gelagapan. Rupanya tadi la terdiam selama Pak Adi menandakan. Pak Adi kemudian menghampirinya. Meraba keningnya. Ade jadi terharu.

“Kepalamu hangat. Pulang saja, ya. Nanti bertambah parah...” kata Pak Adi. Ade menurut. Ia bergegas meninggalkan sekolah. Ade berjalan dengan setengah berlari. Agar secepat mungkin bisa tiba di rumah melihat Kak Nina. Dengan tergopoh-gopoh ia memasuki rumah. Ibu hingga keheranan melihat sikapnya. Langsung menuju ke kamar Kak Nina. Dan Kak Nina terbaring di pembaringannya.

Ade seakan-akan ingin menubruk abangnya yang sedang terbaring itu. Kak Nina jadi terheran-heran dibuatnya.

“Ada apa, De? Kenapa kau tiba-tiba begini?” tanya Kak Nina.

“Maafkan saya, kak. Sebenarnya aku tidak ada ulangan... Aku cuma aib mengantarkan kudapan bagus-kue itu “ Ade eksklusif saja menangis. Suaranya jadi tidak terang terdengar.

“Sudahlah, jangan menangis. Yang penting kau sudah menyadari kesalahanmu dan tak akan mengulanginya lagi. Untuk kali ini tak apa-apa. Kakak memaafkanmu, De,” Lembut bunyi Kak Nina menyejukkan hati Ade. Mengobati rasa sesalnya agar tidak berkepanjangan.

Dan keesokan harinya, Kak Nina masih sakit. Ade benar-benar melakukan apa yang dijanjikannya kepada kakaknya. Tanpa ragu lagi Ade menjinjing keranjang kue-kue. Dengan sepeda ia berkeliling mengantar kudapan anggun-kue itu ke warung-warung. Tak ada yang mengejek, tak ada yang menarik hati, tak ada rasa malu. Yang ada ialah rasa tanggung jawab yang besar.

Ayo Menulis!
Berdasarkan cerpen “Tanggung Jawab Ade”, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
  1. Siapa tokoh dalam cerpen “Tanggung jawab Ade”? Ade, Kak Nina, Ibu, Yova, Vina, Papa Yova, Bik Icih, dan Pak Adi
  2. Berapa anggota keluarga Ade? 4 orang, Ayah Ade, Ibu Ade, Kak Nina, Ade
  3. Siapa yang biasa mengantar kudapan manis setiap pagi ke warung-warung? Kak Nina biasa mengantar kudapan manis setiap pagi ke warung-warung .
  4. Apa yang terjadi pada Kak Nina? Kak nina sedang sakit sehingga tidak mampu mengantarkan kudapan cantik ke warung-warung.
  5. Bagaimana Ade menolak seruan itu untuk menggantikan peran Kak Nina? Ade berangkat tergesa-gesa. Ada ulangan, begitu alasan yang disampaikannya untuk menolak tugas yang biasa dilakukan Kak Nina.
  6. Mengapa Ade tidak mau menggantikan peran Kak Nina? Ade sengaja menolak tugas itu karena aib. Ia tidak mau teman-temannya melihatnya naik sepeda sambil membawa keranjang kue-kue.
  7. Di mana Ade menunggu sebelum berangkat ke sekolah? Sebelum berangkat Ade menunggu di rumah Yova.
  8. Mengapa Ade merasa gundah ketika berlangsung pelajaran di sekolah? Ade merasa galau saat berlangsung pelajaran di sekolah karena merasa bersalah dan khawatir Kak Nina tambah parah sakitnya.
  9. Apa yang dilakukan Ade setiba di rumah kembali? Ade meminta maaf kepada Kak Nina dan menyampaikan bahwa tidak ada ulangan. Dia merasa malu untuk menggantikan tugas Kak Nina mengantarkan kue-kue.
  10. Apa yang dikatakan Kak Nina kepada Ade? Kak Nina menyampaikan biar Ade jangan menangis dan yang penting Ade sudah menyadari kesalahannya dan tak akan mengulanginya lagi. 

Pada cerpen “Tanggung Jawab Ade” ibu Ade memiliki perjuangan kuliner untuk dijual ke warung-warung. Dari usaha makanan itu tentunya ibu Ade akan memperoleh laba. Keuntungan inilah yang akan menjadi pemanis penghasilan bagi keluarga Ade. Usaha yang dilakukan ibu Ade tersebut merupakan teladan aktivitas ekonomi yang dibutuhkan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga Ade.

0 Response to "Membaca Cerpen Tanggung Jawab Ade"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel