Advertising 468 x 60

Badak Jawa


A. Deskripsi Badak Jawa

Badak Jawa
Badak jawa atau Badak bercula-satu kecil  diberi nama latin Rhinoceros sondaicus, ialah anggota famili Rhinocerotidae dan satu dari lima badak yang masih ada. Badak ini masuk ke genus yang sama dengan badak india dan mempunyai kulit bermosaik yang ibarat baju baja. Badak ini mempunyai panjang 3,1 – 3,2 m dan tinggi 1,4 – 1,7 m. Badak ini lebih kecil daripada rino india dan lebih erat dalam besar badan dengan badak hitam. Ukuran culanya biasanya antara 20 - 27 cm, lebih kecil daripada cula spesies rino lainnya. Badak remaja mempunyai berat antara 900 - 2.300 kilogram. Tidak terdapat perbedaan besar antara jenis kelamin, tetapi rino Jawa betina ukuran tubuhnya sanggup lebih besar. Badak di Vietnam lebih kecil daripada di Jawa menurut penelitian bukti melalui foto dan pengukuran jejak kaki mereka.
Seperti sepupunya di India, rino jawa mempunyai satu cula, spesies lain mempunyai dua cula. Badak jawa jarang memakai culanya untuk bertarung, tetapi menggunakannya untuk memindahkan lumpur di kubangan, untuk menarik tumbuhan biar sanggup dimakan, dan membuka jalan melalui vegetasi tebal. Badak Jawa mempunyai bibir panjang, letak di atas dan tinggi yang membantunya mengambil makanan. Gigi serinya panjang dan tajam; saat rino jawa bertempur, mereka memakai gigi ini. Di belakang gigi seri, enam gigi geraham panjang dipakai untuk mengunyah tumbuhan kasar. Seperti semua badak, rino jawa mempunyai penciuman dan indera pendengaran yang baik tetapi mempunyai pandangan mata yang buruk. Mereka diperkirakan hidup selama 30 hingga 45 tahun.
Kulitnya yang sedikit berbulu, berwarna abu-abu atau abu-abu-coklat membungkus pundak, punggung dan pantat. Kulitnya mempunyai teladan mosaik alami yang menimbulkan rino mempunyai perisai. Pembungkus leher rino Jawa lebih kecil daripada rino india, tetapi tetap membentuk bentuk pelana pada pundak.
Badak jawa pernah menjadi salah satu rino di Asia yang paling banyak menyebar. Meski disebut "badak jawa", binatang ini tidak terbatas hidup di Pulau Jawa saja, tapi di seluruh Nusantara, sepanjang Asia Tenggara dan di India serta Tiongkok. Spesies ini sekarang statusnya sangat kritis, dengan hanya sedikit populasi yang ditemukan di alam bebas, dan tidak ada di kebun binatang. Badak ini kemungkinan ialah mamalia terlangka di bumi. Populasi 40 - 50 rino hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa, Indonesia. Populasi rino Jawa di alam bebas lainnya berada di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam dengan asumsi populasi tidak lebih dari delapan pada tahun 2007.
Badak ini hidup di hutan hujan dataran rendah, padang rumput berair dan daerah daratan banjir besar. Badak jawa kebanyakan bersifat tenang, kecuali untuk masa kenal-mengenal dan membesarkan anak, walaupun suatu kelompok kadang kala sanggup berkumpul di erat kubangan dan tempat mendapat mineral. Badak remaja tidak mempunyai hewan pemangsa sebagai musuh. Badak jawa biasanya menghindari manusia, tetapi akan menyerang insan kalau merasa diganggu. Peneliti dan pelindung alam jarang meneliti binatang itu secara pribadi lantaran kelangkaan mereka dan adanya ancaman mengganggu sebuah spesies terancam. Peneliti memakai kamera dan sampel kotoran untuk mengukur kesehatan dan tingkah laris mereka. Badak Jawa lebih sedikit dipelajari daripada spesies rino lainnya.

B. Taksonomi dan penamaan

Penelitian pertama rino jawa dilakukan oleh penyelidik alam dari luar daerah. Tahun 1822, diidentifikasi oleh Anselme Gaëtan Desmarest sebagai Rhinoceros sondaicus. Spesies ini ialah spesies rino terakhir yang diidentifikasi. Nama genusnya Rhinoceros, yang didalamnya juga terdapat badak India, berasal dari bahasa Yunani: rhino berarti hidung, dan ceros berarti tanduk; sondaicus berasal dari kata Sunda, daerah yang mencakup pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan kepulauan kecil disekitarnya. Badak Jawa juga disebut rino bercula-satu kecil, sebagai perbedaan dengan rino bercula-satu besar, nama lain badak India.

C. Sifat Badak Jawa

Badak jawa ialah binatang hening dengan pengecualian saat mereka berkembang biak dan apabila seekor inang mengasuh anaknya. Kadang-kadang mereka akan berkerumun dalam kelompok kecil di tempat mencari mineral dan kubangan lumpur. Berkubang di lumpur ialah sifat umum semua rino untuk menjaga suhu badan dan membantu mencegah penyakit dan parasit. Badak jawa tidak menggali kubangan lumpurnya sendiri dan lebih suka memakai kubangan binatang lainnya atau lubang yang muncul secara alami, yang akan memakai culanya untuk memperbesar. Tempat mencari mineral juga sangat penting lantaran nutrisi untuk rino diterima dari garam. Wilayah jantan lebih besar dibandingkan betina dengan besar wilayah jantan 12 – 20 km² dan wilayah betina yang diperkirakan 3 – 14 km². Tidak diketahui apakah terdapat pertempuran teritorial.
Jantan menandai wilayah mereka dengan tumpukan kotoran dan percikan urin. Goresan yang dibentuk oleh kaki di tanah dan gulungan pohon muda juga dipakai untuk komunikasi. Anggota spesies rino lainnya mempunyai kebiasaan khas membuang air besar pada tumpukan kotoran rino besar dan kemudian menggoreskan kaki belakangnya pada kotoran. Badak Sumatra dan Jawa saat buang air besar di tumpukan, tidak melaksanakan goresan. Adaptasi sifat ini diketahui secara ekologi; di hutan hujan Jawa dan Sumatera, metode ini mungkin tidak berkhasiat untuk menyebar bau.
Badak jawa mempunyai lebih sedikit bunyi daripada rino Sumatra, sangat sedikit bunyi rino jawa yang diketahui. Badak Jawa remaja tidak mempunyai musuh alami selain manusia. Spesies ini, terutama sekali di Vietnam, ialah spesies yang melarikan diri ke hutan saat insan mendekat sehingga sulit untuk meneliti badak. Ketika insan terlalu erat dengan rino jawa, rino itu akan menjadi garang dan akan menyerang, menikam dengan gigi serinya di rahang bawah sementara menikam keatas dengan kepalanya. Sifat anti-sosialnya mungkin merupakan penyesuaian tekanan populasi, bukti sejarah mengusulkan bahwa spesies ini pernah lebih berkelompok. 

D. Makanan Badak Jawa

Badak jawa ialah hewan herbivora dan makan majemuk spesies tanaman, terutama tunas, ranting, daun-daunan muda dan buah yang jatuh. Kebanyakan tumbuhan disukai oleh spesies ini tumbuh di daerah yang terkena sinar matahari: pada pembukaan hutan, semak-semak dan tipe vegetasi lainnya tanpa pohon besar. Badak menjatuhkan pohon muda untuk mencapai makanannya dan mengambilnya dengan bibir atasnya yang sanggup memegang. Badak Jawa ialah pemakan yang paling sanggup menyesuaikan diri dari semua spesies badak. Badak diperkirakan makan 50 kg kuliner per hari. Seperti rino Sumatra, spesies rino ini memerlukan garam untuk makanannya. Tempat mencari mineral umum tidak ada di Ujung Kulon, tetapi rino Jawa terlihat minum air maritim untuk nutrisi sama yang dibutuhkan.

E. Reproduksi Badak Jawa

Sifat seksual rino Jawa sulit dipelajari lantaran spesies ini jarang diamati secara pribadi dan tidak ada kebun binatang yang mempunyai spesimennya. Betina mencapai kematangan seksual pada usia 3-4 tahun sementara kematangan seksual jantan pada umur 6 tahun. Kemungkinan untuk hamil diperkirakan muncul pada periode 16 - 19 bulan. Interval kelahiran spesies ini 4 – 5 tahun dan anaknya menciptakan berhenti pada waktu sekitar 2 tahun. Empat spesies rino lainnya mempunyai sifat pasangan yang mirip.

F. Konservasi Badak Jawa

Berkurangnya populasi rino jawa diakibatkan oleh perburuan untuk diambil culanya, yang sangat berharga pada pengobatan tradisional Tiongkok, dengan harga sebesar $ 30.000 per kilogram di pasar gelap. Berkurangnya populasi rino ini juga disebabkan oleh kehilangan habitat, yang terutama diakibatkan oleh perang, mirip perang Vietnam di Asia Tenggara juga menimbulkan berkurangnya populasi rino Jawa dan menghalangi pemulihan. Tempat yang tersisa hanya berada di dua daerah yang dilindungi, tetapi rino jawa masih berada pada risiko diburu, peka terhadap penyakit dan menciutnya keragaman genetik menyebabkannya terganggu dalam berkembangbiak. WWF Indonesia mengusahakan untuk membuatkan kedua bagi rino jawa lantaran kalau terjadi serangan penyakit atau musibah mirip tsunami, letusan gunung berapi Krakatau dan gempa bumi, populasi rino jawa akan pribadi punah. Selain itu, lantaran invasi langkap atau arenga dan kompetisi dengan banteng untuk ruang dan sumber, maka populasinya semakin terdesak.
Badak Jawa yang hidup berkumpul di satu tempat utama sangat rentan terhadap kepunahan yang sanggup diakibatkan oleh serangan penyakit, musibah mirip tsunami, letusan gunung Krakatau, gempa bumi.
Penelitian awal WWF mengidentifikasi habitat keedua yang cocok, kondusif dan relatif erat ialah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat, yang dulu juga merupakan habitat rino Jawa. Jika habitat kedua ditemukan, maka rino yang sehat, baik, dan memenuhi kriteria di Ujung Kulon akan dikirim ke wilayah yang baru. Habitat ini juga akan menjamin keamanan populasinya.

Sumber:
Gambar dari google images


Artikel Hewan Langka
No
HEWAN LANGKA
Penulis
01
Semiyanto
02
Semiyanto
03
Semiyanto
04
Semiyanto
05
Semiyanto
06
Semiyanto
07
Tubagus
08
Rizki Ramadhan

0 Response to "Badak Jawa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel