Advertising 468 x 60

Kunang-Kunang, Serangga Bercahaya


1. Deskripsi Kunang-kunang
Kunang-kunang termasuk dalam golongan Lampyridae yang merupakan familia dalam ordo kumbang Coleoptera. Ada lebih dari 2.000 spesies kunang-kunang, yang sanggup ditemukan di kawasan empat ekspresi dominan dan tropis di seluruh dunia. Banyak sepesies ini yang ditemukan di rawa atau hutan yang berair dimana tersedia banyak persediaan masakan untuk larvanya.
Kunang-kunang yakni sejenis serangga yang sanggup mengeluarkan cahaya yang terang terlihat dikala malam hari. Cahaya ini dihasilkan oleh "sinar dingin" yang tidak mengandung ultraviolet maupun sinar inframerah dan mempunyai panjang gelombang 510 hingga 670 nanometer, dengan warna merah pucat, kuning, atau hijau, dengan efisiensi sinar hingga 96%.

2. Fungsi Cahaya
Bagian badan Kunang-kunang yang memgeluarkan cahaya
Kunang-kunang memancarkan sinar untuk saling mengenali atau untuk memberi tanda kawin, memakai panjang gelombang sinar yang berbeda, tergantung pada spesiesnya. Selain itu, pada beberapa spesies, kunang-kunang jantan yang mula-mula menyorotkan sinar untuk menarik sang betina, sementara pada spesies lainnya, sang betina yang “memanggil.” Sebagian kunang-kunang memakai cahaya mereka untuk mempertahankan diri. Mereka mengeluarkan sinar sebagai tanda pada musuh bahwa mereka bukan masakan yang lezat.
Bagi kunang-kunang kelompok Photuris, cahaya mereka berperan pula dalam perburuan. Betina jenis ini sanggup menjiplak kerlipan sinyal cahaya yang dipancarkan betina jenis lain. Dengan sinyal cahaya palsu ini, kunang-kunang jantan jenis lainpun terjebak dan dimakan oleh Photuris betina.
Cahaya kunang-kunang berperan pula sebagai tanda peringatan, untuk memperingatkan antar-sesama jenisnya wacana ancaman bahaya, maupun peringatan bagi serangga dan burung pemangsa semoga tidak memakannya. Sebab, zat pemicu pembentukan cahaya kunang-kunang berasa pahit. Kalaupun ada serangga pemangsa yang nekad, mereka biasanya memakan badan kunang-kunang dari pecahan kepala, terus hingga ke pecahan belakang, kecuali pecahan perut yang tidak dimakannya.

3. Makanan Kunang-kunang
Makanan kunang-kunang yakni cairan tumbuhan, siput-siputan kecil, cacing, maupun serangga lain.

4. Ritual Perkawinan Kunang-kunang
Cahaya berfungsi sebagai bahasa isyarat
Diketahui ada dua tipe ritual perkawinan kunang-kunang. Tipe pertama, kunang-kunang betina akan melepaskan cahaya yang menarik perhatian kunang-kunang jantan. Pada tipe ini, kunang-kunang betina merupakan pihak yang aktif mencari pasangan sedangkan yang jantan pasif.
Pada tipe kedua, ritual perkawinan diawali dengan kedipan-kedipan cahaya kunang-kunang jantan yang mengabarkan bahwa ia yakni cowok atau duda kesepian yang tengah mencari kekasihnya yang sekarang entah dimana. Terbang kian kemari sambil berharap ada kunang-kunang betina yang sedang mejeng mencari jodoh.
Kedipan cahaya suatu jenis kunang-kunang mempunyai warna, intensitas dan kekuatan yang khas sehingga hanya kunang-kunang jenis yang sama yang bisa mengartikulasikan makna kedipan cahaya tersebut. Kekhasan cahaya pada dikala mencari pasangan ini pulalah yang dipakai oleh para andal untuk membedakan banyak sekali jenis kunang-kunang.
Kunang-kunang betina jarang terbang mencari pasangan hidup, ia hanya menunggu di atas tanah atau rerumputan sambil berharap ada kode dari kunang-kunang jantan yang bakal menjadi tambatan hatinya. Ketika melihat cahaya kunang-kunang jantan, sang betina akan menawarkan respon dengan pancaran cahaya yang mengisyaratkan bahwa ia telah mengenali signal sang jantan.
Selanjutnya pejantan terbang menuju betina dambaan hidupnya. Setelah dekat, kunang-kunang jantan mengeluarkan cahaya terang berkali-kali, mungkin untuk meyakinkan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Demikian juga si betina akan mengeluarkan sinar terang yang menerangkan siap bercumbu, pejantan akan mendekati betina dan lalu mereka kawin.

5. Reproduksi Kunang-kunang
Proses perkawinan terjadi dengan saling menyentuhkan kedua alat kelaminnya yang berada di ujung perut dan dilanjutkan dengan transfer paket sperma dari pejantan ke badan betina. Paket sperma akan disimpan di dalam abdomen betina hingga ia siap bertelur. Proses perkawinan sanggup berlanjut sepanjang malam, dan pada dikala itu kunang-kunang tidak mengeluarkan cahaya.
Setelah proses perkawinan, betina eksklusif memakan sang kekasihnya yang telah membuahi sel telurnya. Dengan memakan lawan jenisnya, maka sang betina mendapat perhiasan protein untuk membesarkan sel telur yang ada dalam tubuhnya.

6. Pertumbuhan dan Perkembangan Kunang-kunang
Kunang-kunang bertelur pada dikala hari gelap, telur-telurnya yang berjumlah antara 100 dan 500 butir diletakkan di tanah, ranting, rumput, di tempat berlumut atau di bawah dedaunan. Pekuburan yang tanahnya relatif gembur dan tidak banyak terganggu merupakan lokasi ideal perteluran kunang-kunang.
Setelah sekitar 30 hari, muncul larva kunang-kunang mirip cacing memancarkan cahaya, bentuknya pipih dengan kepala kecil dan rahang kuat. Fungsi cahaya pada larva hanya untuk memperingatkan pemangsa semoga tidak mencoba mengganggunya. Aktivitas utama larva yakni makan masakan yang berupa cacing tanah, siput kecil atau serangga kecil lain. Masa larva merupakan masa paling usang yaitu sekita 1-2 tahun sebelum menjadi kepompong. Hanya sebagian kecil dari telur kunang-kunang menetas menjadi larva dan hanya sedikit larva yang sukses menjadi kepompong. Beberapa pemangsa memangsa telur maupun kunang-kunang yunior.
Sebelum menjadi kepompong larva akan menciptakan liang di dalam tanah. Selanjutnya ia akan masuk dan melingkarkan tubuhnya di dakam liang. Mulutnya akan mengeluarkan lendir lengket yang ditempelkan di dinding liang. Setelah sebulan larva beristirahat dalam bilik, ia menanggalkan kulit untuk terakhir kali dan memasuki masa kepompong. Kepompong pada mulanya berwarna kuning pucat dan perlahan-lahan menjadi gelap, masa kepompong berlangsung sekitar 10 hari.
Kunang-kunang pandai balig cukup akal keluar dari kepompong dengan badan pucat yang hasilnya menjelma lebih gelap. Kedua pasang sayap direntangkan semoga mengembang dan kering. Kunang-kunang pandai balig cukup akal ini tinggal di dalam bilik selama beberapa hari hingga kedua sayap depannya benar-benar keras dan membentuk elitera, perisai yang melindungi kedua sayap belakangnya yang lunak.
Kunang-kunang pandai balig cukup akal hidup selama 2 - 3 minggu, untuk melaksanakan perkawinan. Selama itu acara makan kunang-kunang sangat beragam, beberapa jenis hanya mengisap cairan tumbuhan sementara jenis lainnya meneruskan kebiasaan makan mirip ketika masih larva, sebagai pemakan serangga lain atau siput-siputan kecil.

7. Cara Memelihara Kunang-kunang
Bila ingin memelihara kunang-kunang, sebaiknya menyiapkan tempat yang di desain hampir sama dengan habitat aslinya. Tidak harus seluas dengan yang aslinya. Yang penting kunang-kunang nyaman dan betah tinggal disana. Makanannya pun bisa di ambil dari alam sekitar kita.


Sumber
gambar dari google images


Artikel Organisme Unik
No
ORGANISME UNIK
Penulis
01
Semiyanto
02
Semiyanto
03
Semiyanto
04
Semiyanto
05
Semiyanto
06
Semiyanto
07
Semiyanto
08
Semiyanto
09
Intan Furaida
10
Rizki Ari M
11
M. Ikhsan S
12
Rena Fillias A.
13
M. Ali Nurdin.
14
Semiyanto
15
M.N. Maulana 
16
Semiyanto
17
Semiyanto

0 Response to "Kunang-Kunang, Serangga Bercahaya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel